Literasi Digital
Secara sederhana, literasi adalah kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, serta memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, makna literasi telah berkembang jauh lebih luas dari sekadar melek huruf. Di era modern, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis (calistung), tetapi juga sebagai kemampuan untuk memahami, menafsirkan, menganalisis, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi menggunakan berbagai media.
Menurut UNESCO, definisi literasi yang lebih komprehensif adalah:
"Kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, mengomunikasikan, dan menghitung, menggunakan materi cetak dan tertulis yang terkait dengan berbagai konteks. Literasi melibatkan rangkaian pembelajaran berkelanjutan dalam memberdayakan individu untuk mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka, serta untuk berpartisipasi penuh dalam komunitas dan masyarakat luas."
Makna Literasi yang Lebih Luas
Intinya, literasi modern mencakup dua aspek utama:
-
Kemampuan Mengolah Informasi: Tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadapnya, mengevaluasi kebenarannya (validitas), dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat.
-
Kemampuan Berkomunikasi: Mampu menyampaikan ide, gagasan, dan informasi secara efektif kepada orang lain, baik secara lisan, tulisan, maupun melalui media digital.
Jenis-Jenis Literasi
Karena tantangan zaman yang semakin kompleks, konsep literasi pun berkembang menjadi berbagai jenis. Di Indonesia, melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN), pemerintah mengidentifikasi enam literasi dasar yang perlu dikuasai, yaitu:
-
Literasi Baca Tulis: Kemampuan dasar untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersurat maupun tersirat, serta menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri.
-
Literasi Numerasi: Kecakapan dalam menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang berkaitan dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Ini juga termasuk kemampuan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam bentuk grafik, tabel, atau bagan.
-
Literasi Sains: Kemampuan untuk memahami fenomena alam dan sosial di sekitar kita. Ini mencakup kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah berdasarkan fakta dan data.
-
Literasi Digital: Kecakapan menggunakan media digital, alat komunikasi, atau jaringan secara bijak, cerdas, dan sesuai aturan hukum. Ini termasuk kemampuan menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan membuat informasi melalui teknologi digital.
-
Literasi Finansial: Pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko finansial dalam konteks keuangan. Tujuannya adalah agar individu mampu membuat keputusan finansial yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
-
Literasi Budaya dan Kewargaan: Kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa, serta memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Mengapa Literasi Penting?
Literasi memiliki tujuan dan manfaat yang sangat fundamental bagi individu dan masyarakat, di antaranya:
-
Meningkatkan Pengetahuan dan Wawasan: Membuka akses tak terbatas ke dunia informasi dan ilmu pengetahuan.
-
Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis: Membantu seseorang untuk tidak mudah percaya pada informasi yang salah (hoax) dan mampu menganalisis masalah secara mendalam.
-
Meningkatkan Kualitas Diri: Keterampilan literasi yang baik menjadi modal penting untuk kesuksesan dalam pendidikan dan karier.
-
Memperkuat Partisipasi Sosial: Masyarakat yang literat lebih mampu berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi dan pembangunan.
-
Mendorong Inovasi dan Kreativitas: Kemampuan mengolah informasi menjadi dasar untuk melahirkan ide-ide dan solusi baru.
Literasi Digital
Secara mendasar, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan internet secara bijak, cerdas, cermat, serta sesuai aturan hukum dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi.
Definisi ini menekankan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis menggunakan gawai atau internet (bisa membuka YouTube, mengirim WhatsApp, atau bermain media sosial). Lebih dari itu, literasi digital adalah life skill atau kecakapan hidup yang mencakup kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan berkreasi di dunia digital.
4 Pilar Utama Literasi Digital (Kerangka Kominfo RI)
Untuk memahaminya lebih mudah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Indonesia merumuskan kerangka literasi digital yang terdiri dari empat pilar utama. Seseorang dianggap "melek digital" jika menguasai keempat pilar ini:
- Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) : Ini adalah pilar yang paling dasar, yaitu kemampuan teknis untuk mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras (seperti smartphone, laptop) dan perangkat lunak (seperti mesin pencari, aplikasi, media sosial) beserta sistem operasinya. Contoh: Tahu cara menggunakan mesin pencari (Google) untuk menemukan informasi, bisa mengoperasikan aplikasi e-commerce untuk berbelanja, atau mampu menggunakan aplikasi rapat virtual seperti Zoom/Google Meet.
- Etis Bermedia Digital (Digital Ethics) : Ini adalah kemampuan untuk menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiket) dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, bagaimana kita berperilaku sopan dan beretika di dunia maya. Contoh: Tidak menyebarkan ujaran kebencian, tidak melakukan perundungan siber (cyberbullying), menggunakan bahasa yang sopan saat berkomentar, dan menghargai privasi orang lain dengan tidak membagikan informasi pribadi mereka tanpa izin.
- Aman Bermedia Digital (Digital Safety) : Ini adalah kemampuan untuk mengenali, mempolakan, menerapkan, dan meningkatkan kesadaran mengenai perlindungan data pribadi dan keamanan digital. Pilar ini berfokus pada cara melindungi diri sendiri dari berbagai risiko di dunia digital. Contoh: Membuat kata sandi (password) yang kuat dan unik, tidak sembarangan mengklik tautan yang mencurigakan (phishing), mengenali ciri-ciri penipuan online, dan melindungi data pribadi agar tidak disalahgunakan.
- Budaya Bermedia Digital (Digital Culture) : Ini adalah kemampuan untuk membaca, menguraikan, membiasakan, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari di dunia digital. Ini tentang bagaimana kita menjadi warga negara digital yang baik. Contoh: Menggunakan media digital untuk mempromosikan budaya lokal, memproduksi konten yang positif dan inspiratif, serta berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda secara terhormat dan inklusif.
Mengapa Literasi Digital Sangat Penting?
Di era informasi saat ini, literasi digital menjadi sangat krusial karena:
-
Menghindari Hoaks dan Disinformasi: Membantu kita untuk berpikir kritis, memverifikasi sumber berita, dan tidak mudah menyebarkan informasi palsu.
-
Melindungi Diri dari Kejahatan Siber: Dengan pemahaman keamanan digital, kita bisa terhindar dari penipuan, pencurian data, dan peretasan.
-
Membuka Peluang Ekonomi: Keterampilan digital membuka akses ke pekerjaan baru, memungkinkan wirausaha (misalnya berjualan online), dan meningkatkan produktivitas.
-
Meningkatkan Partisipasi Sosial dan Sipil: Memudahkan kita untuk mengakses layanan publik, menyuarakan aspirasi secara konstruktif, dan berpartisipasi dalam komunitas online yang positif.
-
Mendukung Pembelajaran Sepanjang Hayat: Internet adalah sumber ilmu yang tak terbatas. Literasi digital memungkinkan kita untuk belajar hal-hal baru secara mandiri.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
-
Sebelum membagikan berita tentang suatu kejadian, Anda memeriksanya terlebih dahulu di beberapa portal berita terpercaya untuk memastikan kebenarannya (Digital Skills + Digital Ethics).
-
Anda menggunakan kata sandi yang berbeda untuk email, media sosial, dan mobile banking Anda (Digital Safety).
-
Saat berbelanja online, Anda membaca ulasan produk dan memeriksa reputasi penjual sebelum melakukan transaksi (Digital Skills + Digital Safety).
-
Anda memberikan komentar yang membangun dan tidak menyinggung SARA di postingan media sosial orang lain (Digital Ethics + Digital Culture).